Notification

×

Iklan

resellerwhm.com - Hosting Unlimited Murah

Iklan

resellerwhm.com - Hosting Unlimited Murah

Tag Terpopuler

Gubernur Melki Laka Lena: Ekonomi NTT Tumbuh 5,01 Persen, Investasi Capai Rp2,63 Triliun

Sabtu | 15.8.26 WIB | 0 Views Last Updated 2026-08-15T03:58:58Z
banner 325x300

 


Liputan-NTT.Com - Kupang,- Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Emanuel Melkiades Laka Lena memaparkan sejumlah capaian pembangunan daerah dalam pidato pembangunan dalam rangka memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Sabtu (15/8/2026).



Dalam pidatonya, Melki menyoroti perkembangan ekonomi NTT yang pada triwulan II 2026 tumbuh 5,01 persen secara year on year (yoy) dibandingkan periode yang sama tahun 2025. Selain pertumbuhan ekonomi, realisasi investasi NTT hingga semester I 2026 juga telah mencapai Rp2,63 triliun.



Melki mengatakan berbagai capaian tersebut merupakan hasil kerja bersama Pemerintah Provinsi NTT, DPRD, pemerintah kabupaten/kota, serta seluruh pemangku kepentingan dalam menjalankan agenda pembangunan daerah.



Atas nama Pemerintah Provinsi NTT, Melki juga menyampaikan ucapan selamat HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia kepada seluruh masyarakat NTT.


Ia berharap momentum kemerdekaan semakin memperkuat persatuan, menumbuhkan optimisme, serta menggerakkan masyarakat untuk terus berkarya, bergotong royong dan mengabdi bagi daerah, bangsa dan negara.


Menurut Melki, kemerdekaan bukanlah tujuan akhir, melainkan jalan menuju cita-cita sebagaimana tercantum dalam Pembukaan UUD 1945, yakni mewujudkan Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.



Ekonomi NTT Tumbuh 5,01 Persen



Dalam pidatonya, Melki menyebut perkembangan ekonomi NTT menunjukkan tren yang menggembirakan.



Pada triwulan II 2026, ekonomi NTT tercatat tumbuh 5,01 persen secara tahunan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.



Pertumbuhan tersebut, kata dia, menunjukkan aktivitas ekonomi masyarakat terus bergerak dan sektor-sektor produktif daerah semakin berkembang.



Pada saat yang sama, tingkat kemiskinan NTT pada Maret 2026 disebut turun menjadi sekitar 7,52 persen, sementara tingkat ketimpangan pendapatan yang diukur melalui Gini Ratio berada pada angka 0,319.



Melki mengatakan indikator tersebut mencerminkan arah pembangunan yang semakin inklusif melalui intervensi terstruktur, antara lain penguatan ekonomi keluarga, perluasan akses pasar produk lokal serta pemerataan hasil pembangunan.



Pertanian Tetap Menjadi Tulang Punggung



Melki menjelaskan, salah satu fokus utama pembangunan NTT adalah penguatan sektor produktif, terutama pertanian, peternakan, perikanan, kehutanan dan berbagai produk unggulan berbasis potensi lokal.



Pertanian disebut tetap menjadi tulang punggung perekonomian NTT dengan menyerap sekitar 2,3 juta tenaga kerja dan memberikan kontribusi sekitar 28,9 persen terhadap PDRB pada 2024.



Dengan potensi lahan kering sekitar 1,8 juta hektare, NTT dinilai memiliki peluang besar untuk menjadi salah satu lumbung pangan di kawasan timur Indonesia.



Pada 2025, nilai tukar petani tercatat 101,4, indeks ketahanan pangan 76,2 dan skor Pola Pangan Harapan 79,3.



Sektor pertanian tersebut ditopang oleh 36.678 kelompok tani, sekitar 70 persen di antaranya masih berada pada kelas pemula, serta 3.167 penyuluh yang mendampingi ribuan desa dan kelurahan.



Pemerintah Provinsi NTT juga terus memperkuat sarana produksi pertanian dengan dukungan sekitar 11.940 unit alat dan mesin pertanian.



Pada 2026, pemerintah menargetkan pencetakan sawah rakyat seluas 4.634,7 hektare untuk meningkatkan produksi sekaligus kesejahteraan petani.



Populasi Ternak Terus Meningkat



Sektor peternakan juga menjadi bagian penting dalam strategi pembangunan ekonomi NTT.



Melki menyampaikan populasi sapi meningkat dari sekitar 552 ribu ekor pada 2023 menjadi lebih dari 758 ribu ekor pada 2026.



Hingga 22 Juni 2026, lebih dari 43 ribu ekor sapi telah dikirim keluar NTT.



Populasi kerbau juga meningkat dari sekitar 66 ribu menjadi hampir 94 ribu ekor. Populasi kambing meningkat dari sekitar 370 ribu menjadi lebih dari 480 ribu ekor, sementara ayam pedaging mencapai sekitar 21,24 juta ekor.



Populasi babi di NTT juga berada di kisaran 1,9 juta ekor pada 2026.



Pemerintah, lanjut Melki, terus memperkuat perlindungan kesehatan hewan, termasuk dalam pengendalian African Swine Fever (ASF) atau demam babi Afrika.



Kesiapsiagaan dilakukan di 22 kabupaten/kota dengan dukungan vaksin, disinfektan, alat uji cepat dan pendampingan biosecurity.



NTT juga mempertahankan status bebas penyakit mulut dan kuku dengan tidak adanya kasus yang dilaporkan.



Perikanan dan Kelautan Didorong Naik Kelas



Di sektor perikanan tangkap, produksi meningkat dari sekitar 87 ribu ton pada 2024 menjadi hampir 96 ribu ton pada 2025.



Peningkatan tersebut didukung berbagai program pendampingan, pengaturan tata kelola dan zona, rantai dingin serta penyediaan lebih dari 2.000 unit cool box pada 2026.



Sementara itu, produksi perikanan budidaya juga terus dikembangkan melalui peningkatan kualitas bibit dan pengembangan industri pengolahan.



Produksi garam rakyat turut mengalami peningkatan dari 15.793 ton pada 2024 menjadi 20.542 ton pada 2025.



Pemerintah juga mengembangkan kawasan industri garam nasional serta memperkuat UMKM pesisir di sejumlah wilayah NTT.



Investasi Capai Rp2,63 Triliun



Selain sektor pertanian, peternakan dan perikanan, investasi menjadi bagian penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi NTT.



Melki menyampaikan realisasi investasi meningkat dari Rp4,22 triliun pada 2024 menjadi Rp4,86 triliun pada 2025.



Sementara hingga semester I 2026, realisasi investasi telah mencapai Rp2,63 triliun.



Pemerintah Provinsi NTT terus mendorong kemudahan perizinan, penataan ruang dan kesiapan lahan untuk menciptakan iklim investasi yang lebih baik.



Investasi diarahkan terutama pada sektor garam, rumput laut, sapi potong dan komoditas unggulan lainnya dengan tujuan mendorong hilirisasi, membuka lapangan kerja dan memperluas pasar.



Perkuat Produk Lokal dan UMKM



Melki juga menyoroti penguatan ekonomi lokal melalui pengembangan produk unggulan desa.



Program One Village, One Product (OVOP) dan One Community, One Product (OCOP) diarahkan untuk mendorong masyarakat tidak hanya menghasilkan bahan mentah, tetapi mengembangkan produk dengan nilai tambah.



Penguatan UMKM dilakukan melalui peningkatan kapasitas produksi, manajemen, pemasaran, pengemasan, digitalisasi serta akses pasar.



Hingga 2026, sebanyak 684 pelaku UMKM disebut telah memperoleh dukungan berupa NIB, sertifikat halal dan PIRT.



Pemerintah juga memperkuat kelembagaan ekonomi desa melalui Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP).



Hingga April 2026, telah terbentuk 3.142 KDKMP atau 100 persen dari seluruh desa dan kelurahan di 22 kabupaten/kota.



Kelembagaan tersebut diarahkan untuk menghimpun, mengelola, mengolah dan mendistribusikan hasil produksi serta produk unggulan masyarakat.



NTT Mark Perluas Pasar Produk Lokal

Penguatan pasar juga dilakukan melalui NTT Mark.



Hingga 2026 telah terbentuk 22 gerai di seluruh kabupaten/kota yang melibatkan sedikitnya 820 pelaku UMKM dan lebih dari 25 ribu produk lokal.



Pada triwulan I 2026, omzet NTT Mark disebut mencapai sekitar Rp1,2 miliar, dengan kontribusi sekitar Rp67 juta terhadap pendapatan daerah.



Melki menegaskan pembangunan ekonomi NTT tidak boleh berhenti pada peningkatan produksi.



Pemerintah ingin membangun ekosistem ekonomi dari hulu hingga hilir agar hasil pertanian, peternakan dan perikanan tidak hanya dijual sebagai bahan mentah, tetapi diolah menjadi produk bernilai tambah.



Melanjutkan Estafet Pembangunan NTT


Dalam pidatonya, Melki juga mengapresiasi para pemimpin NTT sebelumnya yang telah meletakkan fondasi pembangunan daerah.



Ia menyebut sejumlah gubernur terdahulu, mulai dari W.J. Lalamentik, El Tari, Ben Mboi, Herman Musakabe, Piet Alexander Tallo, Frans Lebu Raya hingga Viktor Bungtilu Laiskodat.



Menurutnya, setiap periode kepemimpinan memberikan kontribusi dan meninggalkan fondasi yang menjadi bagian dari perjalanan pembangunan NTT.



Kini, Melki bersama Wakil Gubernur Johni Asadoma membawa visi NTT yang maju, sehat, sejahtera dan berkelanjutan.



Melki menegaskan pembangunan tidak dapat dilakukan oleh pemerintah sendiri.



Diperlukan kolaborasi antara pemerintah, DPRD, masyarakat, dunia usaha, lembaga pendidikan, kelompok tani, nelayan, pelaku UMKM dan seluruh pemangku kepentingan.



Ia berharap seluruh capaian tersebut menjadi fondasi untuk mempercepat transformasi ekonomi NTT.



“Kita tidak hanya meningkatkan produksi, tetapi juga membangun ekosistem dari hulu ke hilir, hingga kekayaan ekonomi tidak berhenti sebagai bahan mentah, melainkan menjadi produk bernilai tambah dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.”



Melki menegaskan, semangat pembangunan tersebut merupakan bagian dari upaya mewujudkan cita-cita kemerdekaan: menghadirkan NTT yang semakin maju, sehat, cerdas, sejahtera dan berkelanjutan. (*)


×
Berita Terbaru Update