Liputan-NTT.Com - Kupang,- Kelurahan Bakunase II, Kecamatan Kota Raja, Kota Kupang, resmi menggelar Festival Seni dan Budaya 2026 yang berlangsung pada 2–4 September 2026 di Lapangan SD Negeri Oetona. Berfokus pada tema "Seni dan Budaya Menjadi Berkat Kehidupan, Berkeluarga, Bermasyarakat, Berbangsa, dan Bernegara".
Acara ini dirancang sebagai wadah strategis untuk melestarikan warisan leluhur sekaligus mempererat tali persaudaraan antar warga di tengah keberagaman etnis yang ada di Kelurahan Bakunase II, sekaligus menggerakkan ekonomi lokal melalui pameran kuliner dan kerajinan tangan warga.
Ketua Panitia Festival, Oktovianus Hen Sem Tabelak, dalam laporan pelaksanaannya menegaskan pentingnya mewariskan kekayaan budaya kepada generasi muda di tengah pesatnya kemajuan teknologi modern.
"Pemerintah Kota Kupang memberi wadah bagi masyarakat dari anak-anak, pemuda, hingga dewasa, untuk menyalurkan bakat dan kreativitas, sekaligus melestarikan warisan budaya masing-masing,".
Festival ini menyajikan rangkaian kegiatan yang komprehensif. Selain mempertunjukkan seni tradisional, musik daerah, dan cerita rakyat, festival ini juga menjadi penggerak ekonomi lokal dengan menghadirkan pameran kerajinan tangan, kain sarung, selimut, hasil bumi, serta aneka kuliner khas yang dijual langsung oleh warga setempat. Berbagai perlombaan bertaraf profesional juga digelar, mulai dari lomba tarian tingkat TK dan SD hingga tarian kelompok pemuda-pemudi.
Mewakili Pemerintah Kota Kupang, Staf Ahli Bidang Ekonomi Pembangunan, Daud Nafi, S.STP., M.M., memberikan apresiasi tinggi atas konsistensi pelaksanaan festival ini.
Ia menyampaikan bahwa program festival budaya ini telah berjalan secara merata di 51 kelurahan se-Kota Kupang selama kurang lebih empat tahun terakhir.
"Seni dan budaya tidak bisa hanya ditaruh di museum atau didengar dari tutur orang tua. Budaya harus dipraktikkan, supaya tidak hilang dari kehidupan kita," tegas Daud Nafi.
Ia juga mengingatkan bahwa keberagaman 5 etnis yang hidup berdampingan di Kelurahan Bakunase II dengan bahasa dan karakter yang berbeda merupakan sebuah kekuatan dan keindahan yang harus dijaga. "Kita boleh maju dengan teknologi, tetapi jangan lupa akar budaya kita."
Melalui perhelatan ini, seni dan budaya diharapkan tidak sekadar menjadi tontonan hiburan semata, melainkan menjelma sebagai instrumen pemersatu (alat perekat) yang kokoh dalam membangun kerukunan hidup beragama, berkeluarga, bermasyarakat, dan bernegara di Kota Kupang. (*)


