Liputan-NTT.Com - Sabu Raijua,- Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (Pemprov NTT) berkomitmen kuat untuk mengubah paradigma pembangunan ekonomi daerah yang selama ini terjebak sebagai penyedia bahan baku mentah. Melalui Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Pemprov NTT menggelar Bimbingan Teknis (Bimtek) Pengembangan Pelaku Ekonomi Kreatif di Kabupaten Sabu Raijua pada Rabu (16/9).
Fokus utama kegiatan ini adalah mendorong hilirisasi dua komoditas lokal unggulan, yaitu Saboak dan nira, menjadi produk olahan bernilai tinggi seperti dodol dan gula semut.
Wakil Bupati Sabu Raijua, Ir. Thobias Uly, yang membuka kegiatan mewakili Gubernur NTT, menegaskan bahwa daerah yang kaya sumber daya tidak akan kuat secara ekonomi jika potensinya berhenti sebagai bahan baku. Selama ini, keuntungan terbesar (nilai tambah) dari komoditas lokal sering kali dinikmati oleh pihak di luar daerah karena proses pengolahan, pengemasan, hingga pemasaran dilakukan di tempat lain.
“Kita tidak ingin masyarakat hanya menjadi penghasil bahan baku. Kita ingin masyarakat menjadi produsen sekaligus pelaku usaha yang mampu menguasai proses dari hulu sampai ke hilir, sehingga manfaat ekonomi yang dihasilkan dapat dirasakan secara lebih besar oleh masyarakat sendiri,” tegas Thobias Uly.
Lebih lanjut, Thobias menjelaskan bahwa di pasar modern, konsumen tidak hanya membeli isi produk, melainkan membeli kualitas, cerita (storytelling), identitas, dan pengalaman yang melekat. Oleh karena itu, pelaku ekraf di Sabu Raijua dituntut untuk tidak sekadar bisa membuat produk, tetapi juga wajib menjaga kualitas, menciptakan kemasan yang menarik, membangun merek, memenuhi legalitas, serta memanfaatkan teknologi digital untuk pemasaran profesional.
Sementara itu, Kepala Bidang Pengembangan Ekonomi Kreatif Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi NTT, Godlif Elliek, menjelaskan bahwa Bimtek ini merupakan wujud nyata implementasi Program Dasa Cita Pemprov NTT. Khususnya pada agenda Pariwisata Penggerak Ekonomi Lokal, Dari Ladang dan Laut ke Pasar, serta Perempuan Berdaya Ekonomi Berjaya.
“Potensi tidak akan menjadi kekuatan ekonomi apabila berhenti sebagai bahan baku. Karena itu, kita dorong bagaimana Saboak dan nira dapat diolah menjadi produk yang memiliki nilai tambah dan memiliki peluang untuk masuk ke pasar yang lebih luas,” ujar Godlif.
Sebagai bentuk komitmen nyata agar program ini berkelanjutan, Pemprov NTT tidak hanya memberikan pelatihan teori dan praktik. Di akhir kegiatan, pemerintah menyerahkan hibah bantuan peralatan pendukung produksi dodol dan gula semut kepada para peserta. Bantuan ini diharapkan dapat memicu para pelaku UMKM untuk langsung mengaplikasikan ilmu yang didapat dan memproduksi produk secara kontinu.
Melalui langkah hilirisasi ini, Pemprov NTT berharap dapat memutus ironi ekonomi daerah di mana "bahan baku berangkat, keuntungan ikut berangkat". Ukuran keberhasilan pembangunan ekonomi Sabu Raijua ke depan tidak lagi dihitung dari seberapa banyak komoditas yang dihasilkan, melainkan seberapa besar nilai tambah yang berhasil tinggal dan mensejahterakan masyarakat lokal.(*)


