Notification

×

Iklan

resellerwhm.com - Hosting Unlimited Murah

Iklan

resellerwhm.com - Hosting Unlimited Murah

Tag Terpopuler

Konflik Antara Pelayan dan Jemaat di GMIT Silo Habo: Gereja Harus Menjadi Agen Perdamaian

Kamis | 26.2.26 WIB | 0 Views Last Updated 2026-02-26T01:02:38Z
banner 325x300

 


Liputan-NTT.Com- Amarasi Selatan,-  Pelayan adalah individu yang ditunjuk atau ditahbiskan untuk menjalankan tugas khusus seperti memimpin ibadah, mengajar, dan melakukan ibadah serta pelayanan sosial. Sedangkan jemaat adalah penerima pelayanan sekaligus bagian dari tubuh gereja yang dipanggil untuk bersekutu dan bersaksi. Antara Pelayan dan Jemaat terkadang tak luput dari konflik yang menyebabkan terjadi perpecahan dan kehilangan kasih dan kerinduan untuk bersekutu kepada Tuhan, oleh karena itu Gereja di tuntut hadir sebagai agen perdamaian. 


Hal itu berdasarkan informasi yang dihimpun dari Jemaat Silo Habo Retraen Amarasi Selatan pada Selasa, 24 Februari 2026.


Pelayan dan jemaat wajib saling membangun iman tetapi jika kasih persaudaraan tidak dipupuk maka terjadi saling curiga dan tidak percaya antara satu sama lain menyebabkan pelayanan menjadi terhambat dan jemaat di korbankan. 


Menikmati persekutuan dan dukungan satu sama lain dalam rayon itu sangat penting. Tetapi kalau pelayan tidak dipercaya karena berkonflik juga sangat berdampak pada pelayanan sehingga Pendeta, Klasis dan Sinode GMIT diminta untuk memperhatikan pelayan yang berkonflik untuk ditegur bila perlu diberhentikan.


Kokoh sebuah Gereja adalah jemaat, jemaat disebut “Batu Hidup” tanpa jemaat, sebuah gereja hanyalah Gedung kosong, bukan sebuah organisme yang hidup. Jemaat yang membawa kehidupan dalam program-program gereja, jika jemaat memiliki iman yang kuat dan saling mengasihi, gereja tersebut akan tetap kokoh meskipun tidak memiliki Gedung yang mewah, jadi pelayan yang tidak pro terhadap jemaat alangkah baiknya diberhentikan dari pelayanan, karena palayanan itu diutamakan kasih yang tulus  kepada Tuhan. Seorang pelayan harus memiliki prinsip kasih bukan sebaliknya.


Tulisan ini berangkat dari protes jemaat terhadap pelayan yang dinilai tidak memiliki jiwa pelayanan kasih dan tulus kepada Tuhan. Menurut sejumlah Jemaat di Rayon Galilea GMIT Silo Habo Retraen Amarasi Selatan, salah satu pelayan inisial (BA) yang dinilai melanggar aturan pelayanan seperti: (1) Tidak membuat masalah, (2) Tidak Berzinah, (3), Tidak Boleh Miras. Namun pelayan (BA) itu selalu membuat masalah dengan warga dan pernah diberhentikan terhitung 4 bulan namun datang pendeta yang baru (BA) Kembali melakukan pelayanan yang menuai protes jemaat.  (BA) juga diduga melakukan pelayanan yang terkesan pilih kasih karena (BA) hanya melayani di jemaat-jemaat tertentu.


Jemaat mengaku protes dengan melayangkan surat penolakan terhadap (BA) yang ditujukan kepada pendeta namun pendeta mengatakan bahwa “surat penolakan jemaat tidak jelas,” jemaat mengulangi kata-kata pendeta. Sehingga saat ini sejumlah Jemaat di rayon Galilea tidak mendapatkan pelayanan baik oleh pelayan maupun pendeta, jelas Jemaat.


Lanjut jemaat, protes itu juga berulang kali hingga 15 Februari 2026 di Gereja, hingga hampir batal Ibadah hari minggu karena protes makin keras terhadap pelayan (BA), namun pendeta tetap diamkan persoalan itu. Saat protes itu sejumlah Jemaat Kembali ke rumah masing-masing hingga tidak ikut ibadah mingguan, pengakuan salah satu jemaat saat di jumpai wartawan di Retraen saat itu.


Pada minggu itu, protes memanas sehingga APH hadir dan menjaga keamanan saat Ibadah hari minggu berlangsung. Bukan itu saja tetapi ada Syukuran Natal Rayon tahun 2025 dilaksanakan pun Pendeta tidak indahkan permintaan jemaat, sehingga Jemaat meminta salah satu pelayan inisial (ON) untuk memimpin syukuran Natal di rayon tersebut. Setelah Natal lalu pelayan (ON) membawah nazar, kolekte dan perpuluhan namun pendeta menolak dengan keras sehingga berakhir memberhentikan (ON), jelasnya.


Diketahui (ON) adalah cucu dari para tetua pelaku sejarah, peletak dasar atau pendiri Gereja GMIT Silo Habo Retraen Amarasi Selatan. Jika Ketua Majelis Jemaat dalam hal ini Pendeta setempat melupakan sejarah tentunya arah tujuan kasih yang tulus itu akan pudar di tengah jalan.


Terpisah, Pendeta Kusi Yendri Nakamnanu melalui Whatsapp pribadinya menyampaikan bahwa dinamika yang terjadi di lingkungan pelayanan Gereja GMIT Silo Habo Retraen Amarasi Selatan sebenarnya persoalan internal gereja dan terkait protes Jemaat Rayon Galilea atas jabatan Ibu BA sebagai Majelis Jemaat dimana semua proses penetapan dan pelayanan Majelis Jemaat dilakukan berdasarkan mekanisme dan tata gereja yang berlaku di lingkungan GMIT, melalui keputusan bersama dalam struktur gerejawi yang sah. Jika terdapat keberatan atau perbedaan pandangan dari jemaat, hal tersebut seharusnya disampaikan melalui jalur internal gereja secara pastoral dan organisatoris, bukan melalui ruang publik yang berpotensi menimbulkan kesalahpahaman.


Lanjutnya, tudingan penolakan Nazar, Kolekte, dan Perpuluhan pada Syukuran Natal 2025 tidak benar. Pelayanan gereja tidak pernah menolak bentuk-bentuk persembahan jemaat yang dilakukan dengan hati yang tulus sesuai iman dan tata ibadah gereja.(kolekte gereja terima tapi masuk di pos yang sebenarnya)


Terkait tudingan penolakan pelayanan Syukuran Natal 2025 di Jemaat Rayon Galilea Informasi tersebut juga tidak benar. Setiap pelayanan dilakukan berdasarkan pengaturan jadwal, koordinasi pelayanan, serta prinsip keteraturan gerejawi. Tidak ada penolakan pelayanan secara sepihak. Terkait pemberhentian Majelis Jemaat Ibu ON Tidak pernah ada pemberhentian Majelis Jemaat secara sepihak karena alasan pelayanan Syukuran Natal. (Justru beliau yg mengundurkan diri secara sadar dan mengembalikan buku pelayanannya setelah mendapat pembinaan tentang struktur majelis). Setiap keputusan terkait status pelayanan majelis harus melalui proses gerejawi yang sah, berjenjang, dan berdasarkan tata gereja GMIT.


Pendeta Kusi Yendri Nakamnanu menghimbau semua pihak untuk menjaga semangat persaudaraan, kesatuan tubuh Kristus, dan penyelesaian persoalan melalui mekanisme gereja yang benar, dalam kasih, damai, dan kebenaran, bukan melalui konflik terbuka yang dapat melukai persekutuan jemaat. (*)


×
Berita Terbaru Update