Lipiuta-NTT.Com - Kupang,- Salah satu sisi yang harus disorot dalam perbincangan tentang HMI adalah ideas as historical forces. Teori ideas sebagai historical forces merupakan teori dari manusia modern, menekankan pada perubahan kepribadian manusia modern untuk membedakan seorang dengan manusia tradisional.
Apakah strategi dan metode HMI "tradisional" baca, kaji, tulis, dan aksi adalah salah? Jawabannya tidak!. Fragmen -fragmen tersebut mesti disisipkan dalam keseharian setiap kader HMI sejak perkenalan melalui doktrin historical yang dibenturkan dengan suasana Bangsa Indonesia hari ini. Kondisi sosial, politik, ekonomi, pendidikan dan sebagainya bangsa Indonesia hari ini telah beranjak dari kondisi "tradisional" (Kapitalis primitif/imperialisme menuju Kapitalis berwajah baru/neoliberalisme). Menurut Alex Inkels, "apabila kita mendidik masyarakat dengan pendidikan manusia modern, maka masyarakat itu secara berangsur-angsur akan mengubah sistem atau struktur sosialnya". Metode dan strategi ala HMI, harus dilakukan dengan cara yang lebih modern dan rutin guna semangat dan etos setiap kader HMI tidak jauh berbeda dengan pendahulunya. Jadi semacam rekayasa sosial yang harus diperbarui dari sistem pembelajaran HMI dengan paling pokok ialah dimulai dengan mengubah kepribadian kader-kader HMI.
Hal ini dilakukan agar kita sebagai kader HMI sadar dan tahu bahwa keberadaannya memiliki fungsi memantulkan ide-ide. Kepribadian menjadi hal paling pokok sekaligus fokus utama, karena HMI kini dihadapkan pada dinamika pergulatan antara kekuatan intelektual kultural dan politik struktural. Tradisi keintelektualan HMI yang pernah mewarnai lautan Nusantara, baik secara politik, sosial budaya maupun ekonomi terus meredup.
❖ HMI & Orientasi
Kepribadian adalah wajah paling menarik setiap kader HMI yang disokong oleh bentuk pembelajaran yang tidak selesai pada catatan kecil, rekaman suara saat kajian, diskusi, dialog maupun berdebat. Dengan kepribadian yang dibentuk secara serius, maka kader HMI akan mengalami sebuah potensi yaitu mobility orientation. Orang modern itu ambisius dan berkeinginan untuk naik status. Dalam HMI pergerakan status itu kita sebut dengan mobilitas. Orientasi kader HMI hari ini adalah pada mobilitas. Perpindahan dari fenomena degradasi kualitas keintelektualan individu yang melanda HMI hari ini menuju perbaikan kualitas keintelektualan kader HMI. Artinya regenerasi selama ini banyak yang harus dikonstruksikan dan didesain ulang, baik keintelektualan maupun kualitas lain seperti kritis dalam berpikir, disiplin yang merupakan perangkat pasti yang di era modern ini harus dimiliki para kader HMI yang bernaung dalam wadah yang penuh dinamika idealisme.
Idealisme kader HMI hari mesti di setting ulang secara serius agar terciptanya harmonisasi tujuan dan watak asasi pergerakan kader HMI di masa kekinian tidak luntur dan tidak jauh berbeda dengan kualitas kader HMI masa lampau. Bagi saya, mesti kita lakukan agar aspek kemandirian akan menghadirkan apa yang disebut sebagai use of long term planning di masa depan. Mobilitas Orientasi ialah usaha aktif untuk menghindari political apathic (apatis) dan apatisme bertentangan dengan ciri-ciri manusia modern.
❖ Profil
HMI sebagai sebuah identitas bersama setiap Kadernya termuat dua misi suci yang dibentangkan dalam bingkai Keindonesiaan dan Keislaman. Maka dari itu profil kader HMI tidak hanya sebatas di media sosial dengan berbagai jenis pose, postingan dan caption yang digunakan. Profil kader HMI hari ini mestinya diisi oleh gambaran- gambaran mengenai pola pikir, sikap, dan perilaku kader dengan kualitas insan cita sebagai referensi utamanya serta jauh dari sikap _homo sovietucis_yang ditandai dengan kepribadian yang pecah dan tidak ada jembatan yang menghubungkannya (Schizophrenia). Orang seakan-akan dua kepribadian yang masing-masing berjalan sendiri. Schizo artinya "pecah" dan Phreno artinya "otak". Otaknya terpecah. Dengan demikian kepribadian tersebut ada dua macam yaitu private versus publik. Kader HMI hari ini selalu memiliki dua kepribadian yang tidak sejalan dan terkadang sulit membedakan dan memfilter setiap perilaku yang kiranya itu bersifat privat dan publik.
Salah satunya adalah saya sendiri sebagai kader HMI menyadari betul usaha-usaha menampilkan dua kepribadian yang nyatanya tidak begitu bagus minim konsistensi ketika saya berada pada ruang pribadi dan ruang publik. Saya selalu menampilkan sesuatu yang sesungguhnya tidak mencerminkan kepribadian yang tidak dapat dipercaya. Inilah yang warisan beberapa generasi belakang yang telah mengendap pada pribadi setiap kader HMI termasuk saya.
Maka dari itu, saat saya menulis percikan tak ternilai ini, saya berusaha untuk merekonstruksi apa yang dikatakan Pramoedya Ananta Toer yaitu, yang mesti lahir adalah kepribadian yang sama. Kepribadian yang harus sejalan dengan dua misi luhur HMI. Saya sadari betul bahwa, sebagai kader HMI, saya sering menggunakan waktu privat saya dengan tidak begitu baik sehingga menjadi aksioma tersendiri ketika saya berhadapan dengan ruang publik yang kiranya mulai berusaha "merasionalkan" sesuatu yang tidak mesti dirasionalkan.
Memang, saya sadar betul bahwa hari ini kader HMI termasuk saya gampang bicara dan gampang pula melalaikan apa yang telah dibicarakan.
❖ Urgensi
Fenomena HMI hari ini mengalami kemunduran luar biasa. Keberlangsungan aktivitas kader HMI hari ini telah di invasi oleh metode dan strategi gelombang ideologi luar (Barat dan anteknya) melalui apa yang kita sebut sebagai thought control (penguasaan pikiran manusia).
Saya menyadari betul sebagai kader HMI hari ini, lebih banyak membuang-buang waktu pada hal-hal yang tidak begitu penting dan menguras tenaga serta pikiran pada perdebatan tentang Tuhan dan sepak bola. Padahal, urgensi kader HMI termasuk saya hari ini adalah kesadaran total tentang kepribadian kita yang cenderung _homo arbaicus_ yang terbentuk karena lamanya pikiran kader HMI termasuk saya yang sedang dikontrol oleh penguasa melalui racun dari berbagai doktrin telah masuk dalam gen-gen kader HMI termasuk saya. Hari ini, kader HMI termasuk saya dibuat melankolis dan apa yang terjadi di bangsa Indonesia hari ini dari pandangan pesimis.
Pesimisme ini ditandai dengan terbuangnya waktu, percuma dengan menonton drama Korea, K-Pop, scroll media sosial tanpa arah juga tujuan dan masing banyak lagi sehingga menjadikan kita kader HMI dalam dua perasaan yaitu maniac depresif sekaligus gembira luar biasa di waktu yang sama dan tanpa disadari.
Kader HMI termasuk saya telah diajarkan untuk survive menata masa depan pribadi maupun bangsa Indonesia dibuat tidak berdaya dan mengalami gangguan kejiwaan luar biasa karena ketidakmampuan kita kader
HMI dalam membendung serangan gelombang luar (Barat & anteknya) dan berpengaruh pada identitas kader HMI termasuk saya yang lambat laut mengalami degradasi intelektual dan moral.
Saya kira sebagai Kader HMI yang harus menyetel ulang kepribadian saya sebagai bentuk legitimasi terhadap diri saya bahwa kepribadian saya belum sejalan dengan apa yang dicita-citakan oleh HMI sejak awal berdirinya pada 5 Februari 1947.
TERUS TUMBUH DAN MEKAR. 79 TAHUN HMI


