Liputan-NTT.Com – Amanatun – Pemerintah Kabupaten Timor Tengah Selatan melalui Dinas Pekerjaan Umum telah memasang gorong-gorong di titik rawan longsor di Jalan Oenitas, Desa Kokoi, Kecamatan Amanatun Selatan. Meskipun langkah ini dinilai positif, pengamat dan warga mengingatkan: tanpa penanaman pohon penahan tanah, perbaikan ini hanya bersifat tambal sulam dan dipastikan akan rusak kembali.
Pantauan wartawan sejak pemasangan dimulai Rabu, 1 Juni 2026 menunjukkan lokasi tersebut telah tercatat labil selama 26 tahun. Setiap musim hujan dengan curah hujan tinggi, lapisan tanah langsung bergeser, berisiko menggeser posisi gorong-gorong hingga masuk ke kebun warga atau alur sungai.
Solusi Menyeluruh Diperlukan
Menurut pengamatan, memasang saluran air saja tidak cukup. Tanah yang mudah longsor butuh penguatan alami. Disarankan menanam bambu dan pohon bitung yang akarnya kuat menjalin lapisan tanah agar tidak tergerus air hujan.
“Kalau gorong-gorong bergeser dan merusak lahan siapa yang bertanggung jawab? Pemerintah harus berpikir jangka panjang, bukan cuma memperbaiki saat jalan sudah putus,” ujar warga setempat.
Ditegaskan, pola kerja “tambal sulam tiap musim hujan” harus diubah. Penanganan infrastruktur jalan rawan longsor wajib menyertakan upaya penghijauan agar struktur tanah stabil dan investasi anggaran tidak terbuang percuma.(*).


