×

Iklan

resellerwhm.com - Hosting Unlimited Murah

Iklan

resellerwhm.com - Hosting Unlimited Murah

Tag Terpopuler

30 Tahun Festival Paskah Pemuda Sinode GMIT “Cahaya Damai dari Gerbang Selatan Nusantara"

Senin | 6.4.26 WIB | 0 Views Last Updated 2026-04-06T12:54:13Z
banner 325x300

 


Liputan-NTT.Com - Kupang,- Festival Paskah Pemuda Sinode Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) sebagai perayaan yang konsisten dilakukan oleh Pemuda GMIT selama 30 tahun. 


Acara pembukaan Festival Paskah GMIT berlangsung di Bundaran Tirosa pada Senin, 6 April 2026 dengan tema “ Cahaya Damai dari Gerbang Selatan Nusantara”. 


Ketua Sinode GMIT Pdt. Semuel Pandie, S.Th di dampingi empat orang Pemuka Agama di NTT dalam sambutannya menyampaikan bahwa memaknai Paskah 2026 dengan dihadiri langsung oleh Wakil Presiden Republik Indonesia Gibran Rakabuming Raka bukan sesuatu yang kebetulan tetapi sudah diatur oleh Tuhan.


Lanjutnya, kehadiran Wapres di Kota Kupang adalah tanda bahwa Indonesia bukan hanya di pusat tapi bergerak berjalan terus ke gerbang Selatan Nusantara. “Di Rumah GMIT dengan penyebaran 1830 Desa dan 117 Kelurahan, 54 Klasis dan 2043 Gereja serta 2,2 juta jiwa, kami ingin mempersembahkan Paskah sebagai kesaksian publik bahwa Kristus bangkit dan membaharui kemanusiaan kita”. 


Paskah mengajarkan bahwa kuasa sejati bukan menekan tetapi memulihkan, bukan menjauh tapi mendekat, bukan melukai tetapi menghidupkan kembali 


“Kami sangat percaya bahwa Paskah Pemuda GMIT ke 30 ini, dimana kita dapat memeriksa daerah kekristenan tidak ada perayaan yang paling konsisten seperti yang ada di NTT. Di Kota Kupang, ini adalah perayaan ke-30 sampai hari ini meski belum masuk event nasional”.


Ketua Sinode berharap dengan hadirnya Wakil Presiden Republik Indonesia dan dukungan dari Gubernur NTT ia optimis Festival Paskah akan menjadi agenda nasional. “Paskah dari NTT untuk Indonesia dari Kota Kupang City Of Love and Harmony kita menyuarakan bahwa cahaya Paskah harus keluar dari gereja menuju bangsa, menyembuhkan luka, meruntuhkan kebencian dan membangun peradaban damai sejahtera”.


Ketua Sinode berharap event seperti Festival Paskah Pemuda mampu menjembatani kreativitas generasi muda, mendorong inovasi, bahkan membuka lapangan kerja, memberi ruang bagi anak-anak muda bukan hanya di Jakarta tetapi dari daerah-daerah di timur dan di selatan Nusantara supaya mereka juga menjadi pelaku pembangunan. Dari GMIT dari NTT siap menjadi contoh generasi muda di Indonesia bahkan bagi bumi ini. 


“Sebagai pendeta Kami tahu ada banyak pergumulan di NTT, kami mohon Mas Gibran berpihak pada NTT Karana pusat stunting ada di NTT, kemiskinan ekstrim, persoalan buru-buru migran, kekerasan terhadap perempuan dan kenaikan angka HIV/AIDS yang menakutkan da di daerah ini kami mohon berpihaklah pada NTT terutama sebagai suatu wilayah 3T yang membutuhkan perhatian lebih adil dan nasib P3K yang mendambakan masa depan yang lebih cerah, sebab Paskah yang sejati adalah keberpihakan kepada mereka yang kecil, rapuh dan yang sedang berjuang. Kami siap memberikan damai dan harmoni, kami siap menjadi contoh untuk Indonesia”. 


Pembacaan Pesan damai dari NTT untuk Indonesia, Nusa Terindah Toleransi oleh Romo Dus Bone. 


Masyarakat NTT adalah komunitas yang terus merawat perdamaian, persaudaraan dan kemanusiaan yang setara sebagaimana diajarkan oleh setiap agama karena itu dalam kegiatan prosesi Paskah Pemuda GMIT di Kota Kupang, Para Pimpinan dan Tokoh Agama NTT menyampaikan pesan damai sebagai berikut:


1.Perbedaan adalah anugerah Allah. Perbedaan tidak boleh memisahkan kita sebab kita adalah sesama saudara. Dalam situasi apapun persaudaraan adalah kekuatan untuk membangun NTT dan Indonesia.


Dengan hidup damai kita dapat bersama-sama mengatasi persoalan ekonomi, pendidikan, sosial dan kekerasan seksual demi terwujudnya masyarakat yang maju, mandiri dan berkeadaban.


2. Tunjukan solidaritas dan kepedulian. Di tengah ancaman global dan krisis pangan, kita dipanggil untuk saling peka saling berbagi dan saling melayani. Hanya dengan kepedulian bersama kita dapat menolong sesama keluar dari kemiskinan dan penderitaan.


3.Jaga persatuan dan toleransi. Persatuan Indonesia sebagai bangsa yang majemuk harus terus dipelihara dalam semangat Bhineka Tunggal Ika, Pancasila dan UUD 1945. Hindari segala bentuk intoleransi yang memecah belah dan galangkan moderasi peradaban untuk membangun Indonesia yang religius, damai dan berpengharapan. (*)





×
Berita Terbaru Update